Karakteristik Peserta didik (Hasil Bacaan)
Bismillahirahmanirahim Assalamualikum warahmatullahi wabarakatu, Alhamdulillah pada hari ini saya masih deberi kesempatan dan diberikan kesehatan oleh Allah sehingga bisa menulis hasil bacaan ini. perkenalkan nama saya maya sari nim 11901278 kelas PAI 4 F disini saya menuliskan dari hasil bacaan saya tentang karakter peserta didik.
Seorang guru dalam proses perencanaan
pembelajaran perlu memahami tentang karakteristik dan kemampuan awal peserta
didik.
Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai
ciri dari kualitas perorangan peserta didik yang ada pada umumnya meliputi
antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik, kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial. Hal ini berpengaruh pada penggunaan bahasa, penghargaan atau pengakuan, perlakuan khusus, dan metode strategi dalam proses pengajaran.
Karakteristik kemampuan awal peserta didik yang
perlu dipahami oleh guru yakni
Guru perlu mengetahui beberapa jumlah peserta
didik yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau
kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didik
akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media, waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka
guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta
didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi, tingkat hobi dan lain sebagainya juga
berpengaruh terhadap proses perumusan perencaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang
peserta didik dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh peserta didik.
Memahami tingkat intelegensi peserta didik juga
dapat mengukur dan memprediks
Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi
pelajaran. Yaitu dengan
Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi. Bahkan dengan
memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap
tingkat intelegensi peserta didik. Tingkat intelegensi peserta didik dapat diperoleh
melalui tes intelegensi peserta didik atau tes potensi akademik.Salah satu kecakapan yang harus dimiliki oleh
peserta didik dalam belajar adalah ketrampilan membaca.
Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang
kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang
bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan membaca
peserta didik dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan
dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
Nilai ujian Juga dapat dijadikan sebagai pedoman
untuk memahami karakteristik awal peserta didik. Untuk memperoleh nilai ujian peserta didik
perlu dilakukan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang
diampu oleh guru yang bersangkutan.
Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam
proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta didik atau disebut
juga dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang
lebih disukai oleh peserta didik. Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta didik yang mengikuti
belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akantetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda-beda.
Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat
kecerdasan peserta didik yang berbeda-beda, akan tetapi ditentukan oleh cara belajar
yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Seorang peserta didik yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia
harus mendengarkan ceramah atau diskusi
Bagaimana telah
diulas sebelumnya, bahwa
peserta didik memiliki
karakteristik tersendiri.
Potensi yang dimiliki
peserta didik dapat
dikembangkan apabila tenaga
pendidik dapat memahami perbedaan-perbedaan tersebut.
Walaupun Dalam sistem
Pendidikan nasional, sistem
klasikal masih menjadi ciri
utama, namun tuntutan
untuk memahami karakter
dan perbedan potensi
anak semakin dituntut.
Proses pembelajaran akan
berlangsung dengan baik
apabila guru mampu
memahami karakter anak dengan
dengan baik. Karakter penting yang perlu dipahami dalam proses pembelajaran diantaranya
adalah,
Indikator Penting Karakteristik
Peserta Didik
1. Mengidentifikasi karakter fisik
dan non fisik anak didik di kelas.Anak merupakan individu yang masih dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mengarah pada
fisik, sedangkan perkembangan
mengacu pada fungsi-fungsi
organ dan non
fisik. Karakter fisik merupakan sesuatu ciri yang mudah diamati, seperti
ciri-ciri fisik (keadaan kaki, mata, tangan,
berkemampuan khusus, dan
lainnya). Dalam proses
pembelajaran, tenaga pendidik
tidak boleh melalaikan unsur tersebut.
Karena unsur itu
akan berimplikasipada pengelolaan
kelas yang pada akhirnya
berdampak pada pencapaian
tujuan belajar. Pertumbuhan
dan perkembangan anak tidak selalu linear. Pada beberapa
kasus, pertumbuhan dan perkembangan mengalami keterlambatan atau
ketidakseimbangan, seperti sosio emosional anak
.2.Mengidentifikasi karakteristik
belajar setiap peserta didik di kelasnya.Anak
memiliki karakteristik tersendiri
dalam belajar. Karakteristik
ini tidak lepas
dari beberapa hal seperti bakat, minat, lingkungan anak,
gaya belajar, intlegensia anak, dan lainnya.
3. Memastikan semua
peserta didik mendapatkan
kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.Dalam
paradigma Pendidikan modern, guru bukan lah “pengajar”, tetapi guru adalah
fasilitator dan motivator. Pendidik profesional
harus mampu memberi
peran besar sebagai
fasilitator. Tenaga pendidik
memberikan kesempatan yang sama kepada anak didik, agar anak didik dapat
berpartisipasi secara maksimal dalam proses pembelajaran.
4. Mengatur kelas untuk memberikan kesempatan
belajar yang sama pada semua peserta
didik dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda.Mengatur kelas
berkaitan dengan pengelolaan kelas. Beberapa hal yang penting diatur seperti :
a.Tempat/posisi duduk anak.
Tempat duduk perlu
disesuaikan dengan keadaan fisik
maupun nonfisik anak.
Contoh, ukuran tinggi badan anak
bila kelas menggunakan sistem deret, penglihatan anak, pendengaran anak dan
lainnya.
b. Penerangan kelas
c. Mobilitas pendidik
d. Posisi media pembelajaran
5. Mencoba mengetahui penyebab
penyimpanganperilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak
merugikan peserta didik lainnya.Anak memiliki karakter perilaku yang berbeda. Penyimpangan
perilaku tidak dianggap sesuatu yang aib.
Bila ada tanda-tanda
penyimpangan perilaku, maka
pendidik mengupayakan melakukan konseling terhadap anak. Bahkan
pendidik dan pihak sekolah haus mengupayakan melakukan upaya-upata dan pendekatan
psikologis. Pemantauan dan kontrol dilakukan secara terus menerus.
6. Membantu mengembangkan
potensi dan mengatasi
kekurangan dan keterlambatan
pemahaman peserta didik.Anak
memiliki perbedaan potensi.
Potensi yang dimaksudkan
disini dapat berupa
kecenderungan minat, bakat, dan
keterlambatan dalam merespon
pembelajaran. Kelemahan pembelajaran
sistem klasikal adalah agak lamban merespon perbedaan-perbedan
individual. Untuk mengetahui anak lebih awal
perkembangan anak, pendidik
dan pihak sekolah
dianjurkan bekerjasama dengan
pihak-pihak tertentu untuk mengetahui
sedini mungkin potensi-potensi yang
dimiliki anak. Pihak-pihak tersebut diantaranya adalah
psikolog. Test-test psikologis
dianggap penting untuk
mengetahui keadaan anak sehingga
pendidik dan sekolah
dapat memberikan pendekatan
yang mampu memaksimalkan
proses pembelajaran.
7. Memperhatikan peserta
didik dengan kelemahan
fisik tertentu agar
dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta
didik tersebut tidak termarginalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb)
Anak memiliki kesempatan yang sama dalam proses
pembelajaran. Kelemahan fisik atau keterbatasan fisik anak
tentu menuntun cara, metode, strategi dan bahkan pendekatan yang akan
dilakukan dalam pembelajaran. Anaktidakdilihatsebagai obyekpendidikan,karenaanakmerupakan sosok individu yang
membutuhkan perhatian dan sekaligus berpartisipasidalam prosespembelajaran. Tujuan manusiayangdiinginkan sepertitergambardalam
tujuan pendidikan harus sesuai dengan gambaran tentang anak.
Yang terpenting dipahami guru sebenarnya adalah bagaimana memahami dunia anak, karakteristik anak, dan proses pendidikan anak. anak merupakan satu kesatuan yang takterpisahkan
Oleh karenaitugurutidakbolehtidak,perlumenyelami duniaanak,potensianak, minatdanbakatanak,memotivasibelajar anak,danpermasalahanlain yangberhubungandengananak. Anakmemiliki karakteristikmasing-masing
yangberbedasatu dengan yang lainnya. Perbedaan karakteristik membutuhkan
perhatian dan pendekatan yang berbeda. Di satusisigurumemberikanperhatian
kepadaseluruh anakyangadadalamprosespembelajaran dikelas,disisilainguru
harusmemberikanperhatiankhususpadaanak-anak tertentu.
Mengembangkan Karakteristik Pembelajaran yang Mendidik
Pertama, mengidentifikasi karakteristik
belajar setiap peserta
didik di kelasnya.
Walaupun sistem pembelajaran kita masih
menganut sistem klasikal,
namun karakteristik perbedaan
dan persamaan individualpenting diperhatikan oleh guru. Identifikasi
tidak hanya tertumpu pada aspek fisik, seperti
berat badan, jenis
kelamin, kelainan fisik,
namun identifikasi nonfisik
tidak dapat diabaikan. Karakteristik nonfisik dapat
berupa mental, emosional, potensi/bakat, termasuk disabilitas mental.
Kedua, semua
peserta didik mendapatkan
kesempatan yang sama
berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Kesempatan diberikan kepada
semua peserta dalam
proses pembelajaran. Guru perlumenjamin untuk
tidak adanya deskriminasi perlakuan
dalam proses pembelajaran. Untuk mewujudkan ini,
guru perlu menggunakan berbagai
pendekatan, metode, dan
model-model pembelajaran.
Ketiga, mengelola kelas.
Penempatan kursi akan
lebih berarti bagi
terciptana pembelajaran yang baik.
Kelas perlu mempertimbangkan jumlah
peserta didik, materi,
dan metode yang
akan digunakan. Hendaknya, format
kursi danlam ruangan
dapat dirubah. Bahkan
pembelajaran tidak selamanya dilakukan dalam
kelas. Penempatan kursi
dapat berpengaruh pada partisipasi
belajar anak. Pengaturan kursi semakin
dibutuhkan apabila ada
peserta didik mengalami
kelainan fisik. Hal-hal
yang seperti ini kurang
diperhatikan dalam proses
pembelajaran. Padahal, prinsip
pembelajaran modern adalah memberikan kesempatan
yang sama bagi
semua peserta didik
untuk mengikuti proses
pembelajaran dengan baik.
Keempat, mengetahui penyebab
penyimpangan perilaku peserta
didik. Guru tidak
hanya menyampaikan pembelajaran yang bersifat kognitif. Guru perlu memperhatikan
kelainan perilaku anak. Guru juga
harus bertindak sebagai
konselor. Penyimpangan perilaku
tidak dapat dibiarkan. Penyimpangan perilaku
perlu diobservasi dan
didiagnostik. Bila guru
tidak memiliki pengetahuan
yang memadai tentang perilaku, maka guru perlu bekerjasama dengan guru
lain, seperti guru Bimbingan dan Konseling.
Kelima,membantu mengembangkan
potensi dan mengatasi
kekurangan peserta didik.
Potensi anak didik dapat
dilakukan dengan melakukan
berbagai tes kepribadian
dan tes bakat
minat. Namun persoalan besar
dalam system pembelajaran
kasikal, potensi, bakat
dan minat kurang
dieksplorasi sebagai penciri karakteristik anak.
Keenam, memperhatikan peserta
didik dengan kelemahan
fisik tertentu. Kelemahan
fisik dapat diantisipasi melalu
pengaturan kelasyang beorientasi
pada kebutuhan anak.
Bila ini diabaikan,
maka anak yang mengalami
kelainan fisik sulit
mengikuti aktivitas pembelajaran.
Dampaknya, peserta didik tersebut termarginalkan (tersisihkan,
diolok‐olok, minder, dan lain sebagainya). Banyak kejadian dalam dunia
penddikan, sikap malu, takut, dan merasa tersisih, diakibatkan oleh perilaku
teman kelas.
Penting dalam mengembangkan karakteristik anak didik.Peran guru dalam memahami karakteristik anak didik dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran normal atau pembelajaran di kelas atau dalam dunia persekolahan formal. Peran ini akan semakin menghilang apabila guru tidak berinteraksi intens dengan anak. Semakin baik guru memahami karakteristik anak, maka proses tersebut dapat berdampak pada: [1] optimalisasi pencapaian tujuan pembelajaran; [2] membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak; [3]. Mempermudah anak untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya; [4] mempermudah guru dan orang tua atau pihak yang berkepentingan untuk mendiagnostik anak, apabila anak memiliki masalah-masalah tertentu; dan [5] mempermudah anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Guru sebagai tenaga pendidik memiliki tanggung jawab besar terhadap dirinya, masyarakat, dan lingkungannya (dunia pendidikan). Tanggung jawab tersebut tidak dapat diabaikan dan bahkan telah dituangkan dalam undang-undang pendidikan nasional. Itulah sebabnya bahwa guru berada di garda terdepan proses pendidikan di Indonesia. Bahkan Professional atau tidaknya guru tergantung dengan kemampuannya dalam memahami peerta didik. Hal-hal mendasar yang mutlak dipahami dan dituangkan dalam proses pembelajaran adalah karakteristik dan potensi belajar anak.

Komentar
Posting Komentar