perangkat pembelajaran (hasil bacaan)
Bismillahirahmanirahim
Assalamualikum warahmatullahi wabarakatu, Alhamdulillah pada hari ini saya
masih deberi kesempatan dan diberikan kesehatan oleh Allah sehingga bisa
menulis hasil bacaan ini. perkenalkan nama saya maya sari nim 11901278 kelas
PAI 4 F disini saya menuliskan dari hasil bacaan saya tentang “perangkat
pembelajaran”
PERANGKAT
PEMBELAJARAN
Perangkat Pembelajaran merupakan
hal yang harus disiapkan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Perangkat
adalah alat atau perlengkapan, sedangkan pembelajaran adalah proses atau cara
menjadikan orang belajar . Menurut Zuhdan, perangkat pembelajaran adalah alat
atau perlengkapan untuk melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan
peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi
pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium
atau di luar kelas.
Suhadi menyatakan perangkat
pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan
sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatan
pembelajaran4 . Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standard Proses
Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa penyusunan perangkat
pembelajaran merupakan bagian dari penyusunan perangkat pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu
pada standar isi. Selain itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan
penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian dan skenario
pembelajaran.
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar atau
alat pendukung yang digunakan oleh guru dan siswa dalam melakukan proses
kegiatan pembelajaran. Dengan perangkat pembelajaran dapat mempermudah dalam
proses pembelajaran dan proses pembelajaran akan berjalan dengan baik.
1.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Menurut Sugiyono terdapat sepuluh langkah penelitian
pengembangan, yaitu:
1. Potensi dan masalah, penelitian dan pengembangan
beranjak pada potensi dan masalah yang dikemukakan dalam bentuk data dan
empirik. Potensi dan masalah tidak harus dicari sendiri, tapi bisa berasal dari
penelitian lain yang masih up to date.
2. Mengumpulkan informasi. Data faktual dan up to date
yang didapat dari potensi dan masalah kemudian dikumpulkan sebagai informasi
yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang
diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
3. Desain produk. Desain produk harus diwujudkan dalam
bentuk bagan atau gambar, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk
menilai dan membuatnya.
4. Validasi desain, merupakan proses kegiatan untuk
menilai apakah rancangan produk secara rasional akan lebih efektif dari produk
lama atau tidak. Validasi dapat dilakukan dengan menghadirkan pakar yang sudah
berpengalaman (expert judgement) untuk menilai produk baru yang dirancang
tersebut.
5. Perbaikan desain. Berdasarkan validasi yang
dilakukan oleh ahli (expert judgement), jika terdapat kelemahan maka harus
dilakukan perbaikan atas desain produk tersebut.
6. Uji coba produk dilakukan pada kelompok terbatas
yang telah ditentukan. Pengujian dapat dilakukan dengan metode eksperimen,
yaitu membandingkan efektivitas produk lama dengan yang baru.
7. Revisi produk setelah diujikan kepada sampel
tertentu, namun masih ditemukan beberapa kelemahan maka akan diperbaiki
sehingga dapat digunakan untuk jangkauan luas.
8. Uji coba pemakaian. Setelah pengujian terhadap
produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka
selanjutnya produk baru tersebut dapat diterapkan dalam lingkup lembaga
pendidikan yang lebih luas. Dalam operasinya, produk baru tersebut tetap harus
dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut.
9. Revisi produk dilakukan jika dalam pemakaian dalam
lembaga pendidikan yang lebih luas terdapat kekurangan dan kelemahan.
10. Pembuatan produk masal. Bila produk baru tersebut
telah dinyatakan efektif dalam beberapa kali pengujian, maka produk baru
tersebut dapat digunakan pada setiap lembaga pendidikan.
Pada saat pembelajaran berjalan, situasinya terbalik,
mulamula guru memberikan model-model pertanyaan, sedangkan siswa diminta oleh
guru untuk membaca teks materi, kemudian segera ditetapkan seolah-olah menjadi
guru (siswa-guru) untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa lain. Guru
memberikan perilaku yang diinginkan pada siswanya untuk mampu bekerja sendiri
dan mengubah perannya sebagai fasilitator. Siswa-guru bertindak sebagai
pemimpin diskusi untuk kelompok, memberikan umpan balik dan semangat ketika
siswa-siswa belajar strategi itu dan membantu mereka saling mengajar satu sama
lain.
Salah satu cara yang dapat ditempuh guru untuk
mengoptimalkan model pembelajaran terbalik khususnya pada kelas besar dengan
mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil. Suasana belajar dalam
kelompok dapat membantu siswa untuk saling memberikan umpan balik diantara
anggota kelompok. Selain itu, belajar berkelompok merupakan aspek penting dalam
proses mengkontruksi pengetahuan karena dapat membuka peluang untuk terjadinya tukar
pendapat, mempertahankan argumentasi, negoisasi antar siswa atau kelompok,
sehingga merangsang siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Adapun tujuan dari setiap strategi-strategi yang dipilih
adalah sebagai berikut:
a. Membuat
rangkuman
Strategi
merangkum ini bertujuan untuk menentukan intisari dari teks bacaan, memberikan
kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan informasi yang paling
penting dalam teks.
b. Membuat
pertanyaan dan jawaban
Strategi
bertanya ini digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi sejauh mana pemahaman
pembaca terhadap bahan bacaan. Pembaca dalam hal ini siswa mengajukan
pertanyaan-pertanyaan pada dirinya sendiri atau dalam bentuk self-test untuk
memastikan bahwa mereka dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
mereka dengan baik, teknik ini seperti sebuah proses metakognitif.
c. Memprediksi
Pada tahap ini,
pembaca diajak untuk melibatkan pengetahuan yang sudah diperolehnya untuk
digabungkan dengan informasi yang diperoleh dari teks yang dibaca untuk
kemudian digunakan dalam mengimajinasikan kemungkinan yang akan terjadi
berdasar atas gabungan informasi yang sudah dimilikinya. Setidaknya diharapkan
dapat membuat dugaan tentang topik dari paragraf selanjutnya.
d. Menjelaskan
kembali
Strategi menjelaskan kembali merupakan
kegiatan yang penting terutama ketika belajar dengan siswa yang memiliki
sejarah kesulitan yang berbeda. Strategi ini memberikan penekanan kepada siswa
untuk menjadi guru dihadapan teman-temannya (siswa-guru).
Pada dasarnya, setiap strategi yang dipilih adalah sebagai
sarana untuk membantu siswa dalam membangun makna dari teks juga sebagai alat
pemantauan mereka membaca untuk memastikan bahwa mereka sebenarnya memahami apa
yang dibaca. Masing-masing dari strategi pembelajaran terbalik ini akan
membantu siswa membangun pengertian terhadap materi yang sedang mereka pelajari
secara mandiri. Hasil penelitian berturut-turut oleh Palinscar pada tahun 1987;
Rosenshine dan Meister pada tahun 1991; Lysinchuk pada tahun 1994; Palinscar
dan Brown pada tahun 1994 menyatakan bahwa model reciprocal teaching telah
dianggap sebagai strategi untuk meningkatkan prestasi akademik siswa yang
kemampuannya akademiknya rendah.
2.
. Pengertian Model Reciprocal Teaching (RT)
Menurut Palinscar, reciprocal teaching mengacu pada
suatu kegiatan instruktusional yang terjadi dalam bentuk dialog antara guru dan
siswa mengenai segmen teks. Dialog disusun dengan menggunakan empat strategi;
memikirkan pertanyaan, meringkas, meramalkan dan merangkum. Guru dan murid
bergiliran mengasumsikan peran guru dalam memimpin dialog ini.
Menurut Nur dan
Wikandari, reciprocal teaching merupakan suatu pendekatan terhadap pengajaran
siswa akan strategi-strategi belajar. Reciprocal teaching adalah pendekatan
kontruktivis yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan
. Sedangkan menurut Ibrahim, pembelajaran terbalik adalah model belajar melalui
kegiatan mengajar teman. Pada model ini siswa berperan sebagai guru,
menggantikan peran guru untuk mengajarkan kepada teman-temannya. Sementara itu,
guru lebih berperan sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator yang memberi
kemudahan dan pembimbing yang melakukan scaffolding.
Scaffolding
adalah pemberian sejumlah besar bantuan kepada seorang anak kepada tahap-tahap
awal pembelajaran dan kemudian anak tersebut mengambil alih tanggung jawab dan
semakin besar segera setelah itu dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat
berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam
langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, ataupun yang lainnya yang
memungkinkan peserta didik untuk tumbuh mandiri.
Pada saat pembelajaran berjalan, situasinya terbalik,
mulamula guru memberikan model-model pertanyaan, sedangkan siswa diminta oleh
guru untuk membaca teks materi, kemudian segera ditetapkan seolah-olah menjadi
guru (siswa-guru) untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa lain. Guru
memberikan perilaku yang diinginkan pada siswanya untuk mampu bekerja sendiri
dan mengubah perannya sebagai fasilitator. Siswa-guru bertindak sebagai
pemimpin diskusi untuk kelompok, memberikan umpan balik dan semangat ketika
siswa-siswa belajar strategi itu dan membantu mereka saling mengajar satu sama
lain.
Sekian
terima kasih wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…..

Komentar
Posting Komentar